semuanya adalah bahan-bahan untuk mencapai penemuan diri. just refrensi untuk hidup. bukan untuk di internalisasi sebagai gaya hidup. karena semua pertanggungjawaban terletak pada diri anda dan bukan pada orang lain yang menjadi rujukan anda.
Pada suatu waktu[1] Sultan Musa Al-Muazzamsyah dari Kerajaan Langkat mengundangnya. Saat itu sang raja sedang dirudung kesedihan. Pasalnya putranya sakit parah dan akhirnya wafat. Syekh HM Nur yang sahabat karib Abdul Wahab ketika di Makkah yang kala itu menjadi pemuka agama di kerajaan memberikan saran agar Sultan bersuluk di bawah bimbingan Abdul Wahab. Sultan menyetujui dan mengundang Abdul Wahab.
Abdul Wahab pun akhirnya datang ke Langkat. Di sana ia mengajarkan tarekat Naqsyahbandi dan bersuluk kepada Sultan. Setelah berulang bersuluk, Sultan Musa memenuhi saran Wahab menunaikan ibadah haji. Di tanah suci sang Raja juga bersuluk kepada Sulaiman Zuhdi di Jabal Kubis.
Berkat kekariban hubungan guru-murid, Sultan Musa menyerahkan sebidang tanah di tepi Sungai Batang Serangan, sekitar 1 km dari Tanjung Pura. Sultan berharap gurunya dapat mengembangkan syiar agama dari tanah pemberiannya. Wahab menyetujui dan menamakan kampung itu Babussalam (pintu keselamatan).
Dalam tarikh 12 Syawal 1300 H/12 Agustus 1883 M Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan bersama 160 orang pengikutnya dengan menggunakan 13 buah perahu mengarungi sungai Serangan menuju perkampungan peribadatan dengan undang-undang atau peraturannya tersendiri yang dinamakan Babussalam. Pendidikan mengenai keislaman diterapkan setiap hari dan malam, sembahyang berjemaah tidak sekali-kali diabaikan. Tilawah al-Quran, selawat, zikir, terutama zikir menurut kaedah Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan lain-lain sejenisnya semuanya dikerjakan dengan teratur di bawah bimbingan ``Syeikh Mursyid'' dan ``khalifah-khalifah''nya. ``Syeikh Mursyid'' adalah Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan sendiri. ``Khalifah'' ada beberapa orang, pada satu ketika di antara ``khalifah'' terdapat salah seorang yang berasal dari Kelantan. Beliau ialah khalifah Haji Abdul Hamid, yang masih ada kaitan kekeluargaan dengan Syeikh Wan Ali bin Abdur Rahman Kutan al-Kalantani.
Babussalam berkembang pesat menjadi kampung yang mempunyai otonomi khusus. Kampung ini kemudian dikenal sebagai daerah basis pengembangan tarekat Naqsyahbandiyah di Sumatra Utara. Bahkan Abdul Wahab sempat membentuk pemerintahan sendiri di Babussalam. Diantara yang paling menarik adalah membuat Lembaga Permusyawaratan Rakyat (Babul Funun).
Hingga saat ini kampung Babusalam masih tersohor sebagai pusat pengembangan tarekat Naqsyahbandiyah. Kini oleh pemerintah daerah setempat juga mendapatkan perlakuan khusus. Memang setiap hari Babussalam tidak pernah sepi dari kegiatan suluk.
Kendati terjalin erat, hubungan Wahab dan Sultan pernah juga mengalami pasang surut. Keduanya sempat renggang. Kala itu Abdul Wahab difitnah membuat uang palsu. Akibatnya, Sultan memerintahkan penggeledahan ke rumahnya. Namun kemudian tidak terbukti. Kedanya saling memaafkan. Namun seusai peristiwa Abdul Wahab memutuskan untuk pindah ke Malaysia. Konon kepindahannya ini mengakibatkan sumur minyak di Pangkalan Brandan surut penghasilannya.
Ada peristiwa lain yang menyebabkan Abdul Wahab juga pernah penjajah Belanda ‘menekan’ Sultan. Dalihnya, berbekal potret Wahab, ditengarai Tuan Guru Babussalam demikian panggilan kehormatannya turut bertempur membantu pejuang Aceh melawan Belanda. Padahal, pada saat bersamaan, pengikutnya menegaskan Tuan Guru berdzikir di kamarnya. Syekh Abdul Wahhab Rokan adalah satu dari ulama Nusantara yang punya nama besar dan mengglobal melampaui tanah kelahiran dan daerah asalnya. Bagi masyarakat Langkat Sumatera Utara, Shekh Abdul Wahab Rokan adalah icon peradaban dan perkembangan keislaman. Melalui jasa beliaulah, Islam tersebar kepada masyarakat luas.
Kealiman, kezuhudan, aktivitas dan produktivitasnya dalam berkarya dan berdakwah meninggalkan khazanah yang serasa tidak pernah habis digali oleh generasi sekarang. Tokoh sejarawan Belanda, Martin Van Bruinessen menulis tentang Shekh Abdul Wahab Rokan: “Seorang Shekh Melayu (Abdul Wahab Rokan), hanya dengan sendirian saja mempunyai pengaruh di kawasan Sumatera dan Malaysia sebanding dengan apa yang dicapai para Shekh Minangkabau seluruhnya.
Fitnah Belanda
Sungguh pun Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan terkenal kezuhudannya, namun beliau tidak mengabaikan perjuangan duniawi, hal ini dibuktikan oleh beliau bersama-sama dengan Sultan Zainal Abidin, Sultan Kerajaan Rokan dan Haji Abdul Muthallib, Mufti Kerajaan Rokan pernah mengasaskan ``Persatuan Rokan''. ``Persatuan Rokan'' bertujuan secara umumnya adalah untuk kemaslahatan dan kebajikan Rokan. Walau bagaimana pun tujuan utamanya adalah perjuangan kemerdekaan untuk melepaskan Kerajaan Rokan dari penjajahan Belanda. Pembahagian kerja ``Persatuan Rokan'' ialah Sultan Zainal Abidin sebagai pelaksana segala urusan luar negeri. Haji Abdul Muthallib menjalankan pekerjaan-pekerjaan dalam negeri dan Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab sebagai menerapkan pendidikan memberi semangat pada masyarakat.
Pada suatu saat Babussalam pernah dihancurkan oleh Belanda dan mengakibatkan tuan guru dan para pengikutnya akhirnya mengungsi. Setelah dirasa aman, maka beliau kembali ke Babussalam, setelah terharu menyaksikan kampung yang dibangunnya menjadi sepi dan hancur, Tuan Guru bersama pengikutnya, kembali membangun Babussalam dan menetap kembali disana. Tak sekadar berkembang pesat, Tuan Guru bersama Babussalam tumbuh sebagai basis Islam yang disegani.
Tak ayal, pemerintah kolonial Belanda berusaha menjinakkannya. Salah satunya dengan tipu daya berupa memberi gelar kehormatan. Pada tahun 1342 H/1923 M Asisten Residen Belanda bersama Sultan Langkat menyematkan ``Bintang Emas'' untuk Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan. Wakil pemerintah Belanda menyampaikan pidatonya pada upacara penyematan bintang itu, ``Adalah Tuan Syeikh seorang yang banyak jasa mengajar agama Islam dan mempunyai murid yang banyak di Sumatera dan Semenanjung dan lainnya, dari itu kerajaan Belanda menghadiahkan sebuah ``Bintang Emas'' kepada Tuan Syeikh. Namun demikian, penyematan bintang seperti itu bukanlah merupakan kebanggaan baginya, mungkin sebaliknya bahawa bisa saja ada maksud-maksud tertentu daripada pihak penjajah Belanda untuk memperalatkan beliau untuk kepentingan kaum penjajah yang sangat licik itu. Oleh itu, dengan tegas Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan berkata ketika itu juga, ``Jika saya dipandang seorang yang banyak jasa, maka sampaikanlah pesan (amanah) saya kepada Raja Belanda supaya ia masuk Islam.''
Tuan Guru menilai bahwa pemberian bintang itu merupakan pengingat yang diberikan oleh Allah kepadanya secara tidak langsung. Setelah kejadian itu, ia meminta pengikutnya lebih giat dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sedangkan bintang kehormatan itu pun kemudian diserahkan kepada Sultan Langkat untuk dikembalikan kepada Belanda.
Selain itu Abdul Wahab juga dikenal aktif dalam dunia politik. Ia mengutus anaknya untuk menemui HOS Cokroaminoto pada 1913. keinginannya adalah membuka cabang Sarekat Islam di Babussalam. Tak lama kemudian, Syarikat Islam pun berdiri di kampungnya.
Tuan Guru wafat di usia 115, pada 21 Jumadil Awal 1345 H (27 Desember 1926), meninggalkan 4 istri, 26 anak, dan puluhan cucu. Hingga kini makamnya diziarahi ribuan umat , terutama setiap peringatan hari wafat (haul).
Syech Abdul Wahab Rokan merupakan salah seorang tokoh Naqsyabandiyah produktif menulis. Tulisannya kebanyakan berisi tentang nasihat dan syair-syair. Salah satu diantaranya sebagai berikut :
Negeri akhirat tempat menanti
Baiklah kita berbuat bakti
Sementara hidup sebelum mati
Jangan mencari harta pengisi peti
Siapa orang ahli thariqat
Serta amal ibadahnya kuat
Tahulah dia dunia banyak mudharat
Tidaklah boleh dibuat sahabat
Sampai sekarang masyarakat Melayu khususnya menggumi syeikh Abdul wahab Rokan sebagai salah seorang penyebar agama dan intelektual yang mumpuni. Tidak salah kalau orang menghormatinya hingga kini.
Karya
Tidak banyak diketahui hasil penulisan Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan. Sampai saat ini yang dapat diketahuai adalah:
1. Munajat, merupakan kumpulan puji-pujian dan pelbagai doa.
2. Syair Burung Garuda, merupakan pendidikan dan bimbingan remaja .
3. Wasiat, merupakan pelajaran adab murid terhadap guru, akhlak, dan 41 jenis wasiat.
1 komentar:
ada tulisan tentang fiqih?
Posting Komentar