Sabtu, 14 Maret 2009

BIOGRAFI SYEKH ABD WAHAB ROKAN

BIOGRAFI SYEKH ABD WAHAB ROKAN

Latar Belakang Pendidikan

Babussalam, Langkat, Sumatera Timur adalah merupakan pusat penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang terbesar di Sumatera sesudah aktiviti Syeikh Ismail bin Abdullah al- Minangkabawi. Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Babussalam tersebut pada satu ketika sangat terkenal hingga ke Semenanjung Tanah Melayu terutama Johor dan Singapura. Nama lengkap Syekh Abdul Wahab Rokan adalah Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi an-Naqsyabandi, terkenal dengan sebutan “Tuan Guru Babussalam (Besilam)”, Faqih Muhammad gelarnya, dan Abu Qosim demikian nama kecilnya.

Ayahnya bernama Abdul Manaf bin M. Yasin bin Maulana Tuanku Haji Abdullah Tembusai, keturunan dari raja-raja Siak. Sedangkan ibunya bernama Arba’iah binti Datuk Dagi binti Tengku Perdana Menteri bin Sultan Ibrahim, kepenuhan (Riau) dan masih mempunyai pertalian darah dengan Sultan Langkat.

Ketika wafatnya, Haji Abdullah Tembusai meninggalkan 670 anak dan cucu. Salah seorang putra beliau bernama M. Yasin menikah dengan seorang wanita dari suku Batu Hampar, dari hasil pernikahan ini kedua sepasang suami istri ini melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Abdul Manaf, yaitu ayah kandung Syekh Abdul Wahab Rokan. Dengan adanya gambaran tersebut di atas akan jelaslah bagi kita, bahwa Syekh Abdul Wahab Rokan ini adalah keturunan dari bangsawan, dan kebangsawannya itu akan nampak terlihat dengan jelas di dalam kiprah beliau sebagai pemimpin dan sekaligus seorang ulama.

Kendati telah wafat sejak sekitar 84 tahun silam, keberadaannya terasa di Kampung Babussalam, Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara. Peziarah mengalir ke makamnya di kampung yang didirikannya. Syekh Abdul Wahab Rokan memang dikenal sebagai ulama ternama di Sumatera.

Beliau dilahirkan pada tanggal 19 Rabi’ul Akhir 1230 H. bertepatan dengan 28 September 1811 M. di Kampung Danau Runda, Rantau Binuang Sakti, Sumatera Timur, (Sekarang Negeri Tinggi, Rokan Tengah, Kab. Rokan hulu, Propinsi Riau). Dan wafat pada tanggal 21 Jumadil awal 1345 H. bertepatan dengan 27 Desember 1926 M. di Babussalam, Tanjungpura, Sumatera Timur (Sekarang Sumatera Utara) . Abdul Wahab tumbuh di lingkungan keluarga yang menjunjung agamanya. Nenek buyutnya, H Abdullah Tembusai, dikenal sebagai seorang ulama besar dan golongan raja-raja yang sangat berpengaruh dan disegani pada zamannya.

Salah seorang putra Abdullah Tembusai, bernama M Yasin menikah dengan Intan. Buah perkawinan itu melahirkan di antaranya Abdul Manap. Putra tertuanya ini, kemudian menikah dan melahirkan Syekh Wahab Rokan.

Dengan titisan darah demikian, Wahab sejak kecil terdidik, terutama untuk pelajaran agama. Demi menghapal AlQuran, Wahab kecil tak jarang bermalam, di rumah gurunya. Ia pun patuh pada guru, bahkan kerap mencucikan pakaian orang yang mendidiknya itu.

Keistimewaan telah tampak sejak Wahab masih bocah. Suatu ketika, saat orang terlelap pada dinihari, Abdul Wahab masih menekuni AlQuran. Mendadak muncul seorang tua mengajarinya membaca aLQuran. Setelah rampung satu khatam, orang tua itu menghilang.

Kesalihannya ini tak jarang mengalami godaan. Saat ia melanjutkan pendidikan di Tembusai, seorang wanita menggodanya, bahkan mengunci pintu tempat Wahab berada. Wahab terus melantunkan doa sehingga terlepas dari jebakan wanita yang tergila-gila padanya. Begitu pun, suatu ketika saat mandi di sungai, seorang gadis melarikan sarungnya. Godaan itu tak membuat imannya meleleh. Bahkan, ia kian kukuh mendalami ilmu agama.

Pada permulaan belajar ilmu agama, Abdul Wahab Rokan belajar pada Tuan Baqi di tempat kelahirannya, selain itu beliau juga belajar membaca al-Qurân kepada H.M. Sholeh, seorang alim besar asal Minangkabau sampai tamat. Kemudian Syekh Abdul Wahab Rokan melanjutkan studinya ke Tembusai dan berguru dengan Maulana Syekh Abdullah Halim dan Syekh Muhammad Shaleh Tembusai. Dari keduanya dipelajarinya berbagai ilmu dalam bahasa arab, antara lain kitab-kitab Fathul Qorîb, Minhâju al-Thâlibîn, Iqna’ (Fiqih), Tafsîr Jamâl, Nahwu, Sharaf, Balâghah, Manthiq, tauhîd, Arûdh dan lain-lain. Karena kepintarannya dalam menyerap ilmu-ilmu dari gurunya dan penguasaan terhadap ilmu-ilmu tersebut, digelarlah ia dengan “Faqih Muhammad”, artinya: orang yang ahli dalam ilmu Fiqih.

Setelah menamatkan studinya dengan dua ulama terkemuka tersebut, pada tahun (1846 M). Abu Qosim (nama kecil Syekh Abdul Wahab Rokan) berangkat ke Semenanjung Melayu untuk menambah ilmu pengetahuan dan tinggal di Sungai Ujung (Simunjung), Negeri Sembilan. Di tempat ini ia belajar kepada Syekh Muhammad Yusuf Minangkabau, seorang ulama terkemuka yang berasal dari minangkabau. Syekh H. Muhammad Yusuf kemudian diangkat sebagai mufti di Kerajaan Langkat dan digelari “Tuk Ongku”. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari Faqih Muhammad berdagang di kota Malaka. Menariknya, berkat kesalihannya, ia menyuruh pembeli menimbang sendiri barang yang dibeli. Ini demi menghindarkan kecurangan.

Setelah dua tahun di Malaka ia meneruskan pelajaran ke Mekkah. (1848 M). Selama enam tahun di Mekkah ia belajar kepada ulama-ulama terkenal seperti Saidi Syarif Zaini Dahlan (mufti mazhab Syafi’i), seorang ulama terkenal berasal dari Turki. Kemudian ia juga berguru dengan Syekh Sayyid Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki dan ulama bangsa Arab lainnya. Kepada ulama-ulama Jawi Atau Asia ia belajar kepada Syekh Muhammad Yunus bin Abdurrahman Batubara Asahan, Syekh H. Zainuddin Rawa, Syekh Ruknuddin Rawa, Syekh Muhammad bin Ismail Daud al-Fathani, Syekh Abdul Qodir bin Abdurrahman Kutan al-Kalantani, Syekh Wan Ahmad bin Muhammad Zain bin Musthafa al-Fathani dan lain-lain.

Namun untuk tasawuf, Abdul Wahab belajar tentang tarekat Naqsyabandiyah pada Syekh Sulaiman Zuhdi. Menyimak ketekunan muridnya, suatu ketika Sulaiman Zuhdi, resmi mengangkat Wahab sebagai khalifah besar. Pengukuhan itu diiringi dengan bai’ah dan pemberian silsilah tarekat Naqsyabandiyah yang berasal dari Nabi Muhammad SAW hingga kepada Sulaiman Zuhdi yang kemudian diteruskan kepada Wahab. Ijazahnya ditandai dengan pemberian dua gelar.

Ia pun mendapat gelar Al Khalidi Naqsyabandi.Kemudian mendapat ijazah sebagai “Khalifah Besar Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah”, dan diberi nama Syekh Haji Abdul Wahab Rokan Jawi al-khalidi an-Naqsyabandi. Tak lama Syekh Sulaiman Zuhdi menyuruh Abdul Wahab Rokan kembali ke tanahairnya untuk menyebarkan Tarekat Naqsyabandiah.

Di namakan Syekh Abdul Wahab dengan “Rokan”, karena ia berasal dari daerah Rokan, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau. Di namakan dengan “al-Khalidi”, karena ia menganut tarekat periode Syekh Khalid sampai pada masanya. Dan dinamakan ia dengan “an-Naqsyabandi”, karena ia menganut tarekat yang ajaran dasarnya berasal dari Syekh Bahauddin Naqsyabandi. Menurut silsilah urutan pengambilan tarikat Naqsyabandiyah, Syekh Abdul Wahab Rokan adalah keturunan ke-32 dari Rasulullah Saw.

Setelah kurang lebih enam tahun di Makkah, ia kembali ke Riau. Di sana, ia yang saat itu berusia 58, mendirikan Kampung Mesjid. Dari sana, ia mengembangkan syiar agama dan tarekat yang dianutnya, hingga Sumatra Utara dan Malaysia.

Kampung Tarekat

Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan pulang ke tanah air pada tahun 1854 M dan dari sinilah awal karier penyebaran ilmu agama dan thoriqoh dimulai.dalam tahun itu juga. Pada masa awal, beliau mengajar di Tanjung Mesjid, daerah Kubu Bagan Siapi-api, Riau. Namun pada tahun 1856 M beliau mulai mengembangkan tidak hanya di Tanjung masjid, akan tetapi juga mengajar di Sungai Mesjid, daerah Dumai, Riau. Setelah itu beliau mulai merambah daerah di Kualuh, wilayah Labuhan Batu tahun 1860 M. Dan mengajar di Tanjung Pura, Langkat tahun 1865 M. Serta mengajar di Gebang tahun 1882 M, dan dalam tahun 1883 berpindah ke Babussalam, Padang Tualang, Langkat. Di Babussalamlah dijadikan sebagai pusat seluruh aktiviti, sebagai pusat tarbiyah zhahiriyah, tarbiyah ruhaniyah dan dakwah membina umat semata-mata mengabdi kepada Allah SWT. Dari sana, ia mengembangkan syiar agama dan tarekat yang dianutnya. Lama kelamaan muridnya banyak dan menyebar hingga ke Asia Tenggara. Sangking terkenalnya, raja-raja diwilayah Riau dan Sumatra Utara mengundangnya.

Pada suatu waktu[1] Sultan Musa Al-Muazzamsyah dari Kerajaan Langkat mengundangnya. Saat itu sang raja sedang dirudung kesedihan. Pasalnya putranya sakit parah dan akhirnya wafat. Syekh HM Nur yang sahabat karib Abdul Wahab ketika di Makkah yang kala itu menjadi pemuka agama di kerajaan memberikan saran agar Sultan bersuluk di bawah bimbingan Abdul Wahab. Sultan menyetujui dan mengundang Abdul Wahab.

Abdul Wahab pun akhirnya datang ke Langkat. Di sana ia mengajarkan tarekat Naqsyahbandi dan bersuluk kepada Sultan. Setelah berulang bersuluk, Sultan Musa memenuhi saran Wahab menunaikan ibadah haji. Di tanah suci sang Raja juga bersuluk kepada Sulaiman Zuhdi di Jabal Kubis.

Berkat kekariban hubungan guru-murid, Sultan Musa menyerahkan sebidang tanah di tepi Sungai Batang Serangan, sekitar 1 km dari Tanjung Pura. Sultan berharap gurunya dapat mengembangkan syiar agama dari tanah pemberiannya. Wahab menyetujui dan menamakan kampung itu Babussalam (pintu keselamatan).

Dalam tarikh 12 Syawal 1300 H/12 Agustus 1883 M Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan bersama 160 orang pengikutnya dengan menggunakan 13 buah perahu mengarungi sungai Serangan menuju perkampungan peribadatan dengan undang-undang atau peraturannya tersendiri yang dinamakan Babussalam. Pendidikan mengenai keislaman diterapkan setiap hari dan malam, sembahyang berjemaah tidak sekali-kali diabaikan. Tilawah al-Quran, selawat, zikir, terutama zikir menurut kaedah Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan lain-lain sejenisnya semuanya dikerjakan dengan teratur di bawah bimbingan ``Syeikh Mursyid'' dan ``khalifah-khalifah''nya. ``Syeikh Mursyid'' adalah Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan sendiri. ``Khalifah'' ada beberapa orang, pada satu ketika di antara ``khalifah'' terdapat salah seorang yang berasal dari Kelantan. Beliau ialah khalifah Haji Abdul Hamid, yang masih ada kaitan kekeluargaan dengan Syeikh Wan Ali bin Abdur Rahman Kutan al-Kalantani.

Babussalam berkembang pesat menjadi kampung yang mempunyai otonomi khusus. Kampung ini kemudian dikenal sebagai daerah basis pengembangan tarekat Naqsyahbandiyah di Sumatra Utara. Bahkan Abdul Wahab sempat membentuk pemerintahan sendiri di Babussalam. Diantara yang paling menarik adalah membuat Lembaga Permusyawaratan Rakyat (Babul Funun).

Hingga saat ini kampung Babusalam masih tersohor sebagai pusat pengembangan tarekat Naqsyahbandiyah. Kini oleh pemerintah daerah setempat juga mendapatkan perlakuan khusus. Memang setiap hari Babussalam tidak pernah sepi dari kegiatan suluk.

Kendati terjalin erat, hubungan Wahab dan Sultan pernah juga mengalami pasang surut. Keduanya sempat renggang. Kala itu Abdul Wahab difitnah membuat uang palsu. Akibatnya, Sultan memerintahkan penggeledahan ke rumahnya. Namun kemudian tidak terbukti. Kedanya saling memaafkan. Namun seusai peristiwa Abdul Wahab memutuskan untuk pindah ke Malaysia. Konon kepindahannya ini mengakibatkan sumur minyak di Pangkalan Brandan surut penghasilannya.

Ada peristiwa lain yang menyebabkan Abdul Wahab juga pernah penjajah Belanda ‘menekan’ Sultan. Dalihnya, berbekal potret Wahab, ditengarai Tuan Guru Babussalam demikian panggilan kehormatannya turut bertempur membantu pejuang Aceh melawan Belanda. Padahal, pada saat bersamaan, pengikutnya menegaskan Tuan Guru berdzikir di kamarnya. Syekh Abdul Wahhab Rokan adalah satu dari ulama Nusantara yang punya nama besar dan mengglobal melampaui tanah kelahiran dan daerah asalnya. Bagi masyarakat Langkat Sumatera Utara, Shekh Abdul Wahab Rokan adalah icon peradaban dan perkembangan keislaman. Melalui jasa beliaulah, Islam tersebar kepada masyarakat luas.

Kealiman, kezuhudan, aktivitas dan produktivitasnya dalam berkarya dan berdakwah meninggalkan khazanah yang serasa tidak pernah habis digali oleh generasi sekarang. Tokoh sejarawan Belanda, Martin Van Bruinessen menulis tentang Shekh Abdul Wahab Rokan: “Seorang Shekh Melayu (Abdul Wahab Rokan), hanya dengan sendirian saja mempunyai pengaruh di kawasan Sumatera dan Malaysia sebanding dengan apa yang dicapai para Shekh Minangkabau seluruhnya.

Fitnah Belanda

Sungguh pun Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan terkenal kezuhudannya, namun beliau tidak mengabaikan perjuangan duniawi, hal ini dibuktikan oleh beliau bersama-sama dengan Sultan Zainal Abidin, Sultan Kerajaan Rokan dan Haji Abdul Muthallib, Mufti Kerajaan Rokan pernah mengasaskan ``Persatuan Rokan''. ``Persatuan Rokan'' bertujuan secara umumnya adalah untuk kemaslahatan dan kebajikan Rokan. Walau bagaimana pun tujuan utamanya adalah perjuangan kemerdekaan untuk melepaskan Kerajaan Rokan dari penjajahan Belanda. Pembahagian kerja ``Persatuan Rokan'' ialah Sultan Zainal Abidin sebagai pelaksana segala urusan luar negeri. Haji Abdul Muthallib menjalankan pekerjaan-pekerjaan dalam negeri dan Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab sebagai menerapkan pendidikan memberi semangat pada masyarakat.

Pada suatu saat Babussalam pernah dihancurkan oleh Belanda dan mengakibatkan tuan guru dan para pengikutnya akhirnya mengungsi. Setelah dirasa aman, maka beliau kembali ke Babussalam, setelah terharu menyaksikan kampung yang dibangunnya menjadi sepi dan hancur, Tuan Guru bersama pengikutnya, kembali membangun Babussalam dan menetap kembali disana. Tak sekadar berkembang pesat, Tuan Guru bersama Babussalam tumbuh sebagai basis Islam yang disegani.

Tak ayal, pemerintah kolonial Belanda berusaha menjinakkannya. Salah satunya dengan tipu daya berupa memberi gelar kehormatan. Pada tahun 1342 H/1923 M Asisten Residen Belanda bersama Sultan Langkat menyematkan ``Bintang Emas'' untuk Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan. Wakil pemerintah Belanda menyampaikan pidatonya pada upacara penyematan bintang itu, ``Adalah Tuan Syeikh seorang yang banyak jasa mengajar agama Islam dan mempunyai murid yang banyak di Sumatera dan Semenanjung dan lainnya, dari itu kerajaan Belanda menghadiahkan sebuah ``Bintang Emas'' kepada Tuan Syeikh. Namun demikian, penyematan bintang seperti itu bukanlah merupakan kebanggaan baginya, mungkin sebaliknya bahawa bisa saja ada maksud-maksud tertentu daripada pihak penjajah Belanda untuk memperalatkan beliau untuk kepentingan kaum penjajah yang sangat licik itu. Oleh itu, dengan tegas Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan berkata ketika itu juga, ``Jika saya dipandang seorang yang banyak jasa, maka sampaikanlah pesan (amanah) saya kepada Raja Belanda supaya ia masuk Islam.''

Tuan Guru menilai bahwa pemberian bintang itu merupakan pengingat yang diberikan oleh Allah kepadanya secara tidak langsung. Setelah kejadian itu, ia meminta pengikutnya lebih giat dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sedangkan bintang kehormatan itu pun kemudian diserahkan kepada Sultan Langkat untuk dikembalikan kepada Belanda.

Selain itu Abdul Wahab juga dikenal aktif dalam dunia politik. Ia mengutus anaknya untuk menemui HOS Cokroaminoto pada 1913. keinginannya adalah membuka cabang Sarekat Islam di Babussalam. Tak lama kemudian, Syarikat Islam pun berdiri di kampungnya.

Tuan Guru wafat di usia 115, pada 21 Jumadil Awal 1345 H (27 Desember 1926), meninggalkan 4 istri, 26 anak, dan puluhan cucu. Hingga kini makamnya diziarahi ribuan umat , terutama setiap peringatan hari wafat (haul).

Syech Abdul Wahab Rokan merupakan salah seorang tokoh Naqsyabandiyah produktif menulis. Tulisannya kebanyakan berisi tentang nasihat dan syair-syair. Salah satu diantaranya sebagai berikut :

Negeri akhirat tempat menanti
Baiklah kita berbuat bakti
Sementara hidup sebelum mati
Jangan mencari harta pengisi peti
Siapa orang ahli thariqat
Serta amal ibadahnya kuat
Tahulah dia dunia banyak mudharat
Tidaklah boleh dibuat sahabat


Sampai sekarang masyarakat Melayu khususnya menggumi syeikh Abdul wahab Rokan sebagai salah seorang penyebar agama dan intelektual yang mumpuni. Tidak salah kalau orang menghormatinya hingga kini.

Karya

Tidak banyak diketahui hasil penulisan Tuan Guru Syeikh Abdul Wahhab Rokan. Sampai saat ini yang dapat diketahuai adalah:

1. Munajat, merupakan kumpulan puji-pujian dan pelbagai doa.

2. Syair Burung Garuda, merupakan pendidikan dan bimbingan remaja .

3. Wasiat, merupakan pelajaran adab murid terhadap guru, akhlak, dan 41 jenis wasiat.


[1] Sebelum pindah ketanah pemberian sultan Musa


1 komentar:

Anonim mengatakan...

ada tulisan tentang fiqih?